"Asli dari mana, bu?"
"Hmmm,, yang jelas saya asli Indonesia sih. Hehehe…"
Kira-kira beginilah cara saya menjawab kalau mendapat pertanyaan tentang asal. Karena saya sendiri bingung dan tidak punya jawaban pasti tentang asal usul diri saya. Hehe.. Mencoba menjawab tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini, sebelum mencari tahu apa yang mau diceritakan tentang daerah asal, saya harus mendefinisikan dulu apa itu daerah asal dan menentukan dari mana saya berasal.
Jika bicara soal darah, kakek dan nenek dari papa saya sebetulnya berdarah Jawa, tapi keduanya lalu merantau ke Jakarta, sehingga papa saya lahir dan besar di Jakarta. Lalu keluarga besarnya juga sepertinya semua merantau ke Jakarta, jadi sejak papa kecil hidupnya dihabiskan di Jakarta saja. Dan sepertinya papa juga sudah merasa Jakarta adalah kota asalnya, terbukti dari papa yang setia menjadi Jakmania. Hehe…
Sementara kalau bicara soal darah dari garis keluarga mama, darah mama setengah Jawa setengah Sunda karena kakek berasal dari Rembang sementara nenek dari Banten. Tapi itu juga hanya darah saja, karena mama sendiri lahir dan besar di Bandung. Bedanya dengan papa, kalau mama di masa kecilnya masih rutin mudik ke Rembang. Tapi karena lahir dan besar di Bandung, mama juga sudah menganggap daerah asalnya adalah Bandung sih, bukan Rembang ataupun Banten.
Dari cerita soal darah mama dan papa, berarti darah saya sebenarnya lebih kental darah Jawa-nya. Tapi pertanyaan selanjutnya, apakah saya merasa bahwa saya adalah orang Jawa? Nggak dong, karena saya lahir dan besar di Bandung dan tidak pernah pergi ke Jawa juga karena tidak ada keluarga di Jawa untuk dikunjungi. Maksudnya Jawa Tengah-Timur yaaa, karena Jawa Barat kan bukan disebut Jawa. Hehe…
Jadi kalau begitu berarti saya orang Sunda dong, karena lahir, besar, dan menghabiskan hidup di Bandung? Hmmm,,, saya agak ragu juga sih menyebut diri saya orang Sunda, karena jujur saya tidak punya kemampuan bicara bahasa Sunda dengan baik. Malu kan kalau ada orang bertanya saya orang mana dan saya jawab Sunda, tapi begitu diajak bicara bahasa Sunda saya malah bengong. Hehe…
Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Bandung adalah kota kesayangan saya, tempat saya tumbuh dan belajar berbagai hal. Tempat yang saya bayangkan akan selalu menjadi "rumah" karena banyaknya memori yang terukir di Bandung. Bahkan kalau disuruh memilih kota impian untuk ditinggali sepertinya saya masih tetap akan memilih Bandung, yang meski banyak kesemrawutan dalam pengelolaan kotanya sekarang, namun tetap selalu di hati. Jadi tak usahlah mempermasalahkan suku asal, tapi cukup di mana hati saya selalu berada. Hehe…
Bandung Dulu Bandung Sekarang
Kesemrawutan yang saya sebut tadi memang nyata terjadi di Kota Bandung sih. Namanya juga ibukota provinsi, pasti perkembangannya pesat, yang sayangnya diikuti berbagai kesemrawutan juga. Macet, polusi, sampah, jadi contoh masalah besar yang masih menjadi tantangan besar untuk dipecahkan oleh pemerintah. Saya yang sudah hidup di Bandung selama lebih dari 3 dekade cukup bisa merasakan perubahan yang terjadi.
Bandung saat ini sudah menjadi salah satu kota termacet di Indonesia. Entah urutan ke berapa ya, tapi yang jelas macetnya Bandung sekarang ini semakin mengerikan. Ketika saya kecil, berangkat sekolah kadang harus melalui arus kendaraan yang padat, tapi itu tidak ada apa-apanya dibanding macetnya Bandung sekarang di jam berangkat sekolah. Kalau sekolah jauh dari rumah, pilihannya hanya berangkat sebelum terang atau terkena stres di jalan akibat macet yang luar biasa. Belum lagi kalau weekend atau bahkan musim liburan. Duh, macetnya area sekitaran mal ataupun tempat wisata pasti bikin emosi deh. Bukannya bisa healing, yang kebagian jadi supir malah bakal jadi stres.
Padatnya kendaraan di Bandung sekarang ini juga jadi salah satu penyumbang polusi udara juga. Asap knalpot dari jumlah kendaraan yang banyak sekaligus terjebak kemacetan menyebabkan udara Bandung yang dulu menyegarkan kini tidak lagi sejuk. Bandung di pagi hari yang dulu sering masih berkabut dan segar sudah tidak lagi bisa dijumpai. Kalau mau mencari udara sejuk harus pergi ke area pinggir kota yang masih banyak pohon, karena sawah maupun kebun di kota sudah berganti jadi rumah.
Semakin banyak perumahan, masalah sampah juga semakin menumpuk. Belum lama ini, tepatnya sekitar lebaran bulan April lalu, Bandung sempat mendapat status darurat sampah akibat TPA yang tidak lagi bisa menampung jumlah sampah masyarakat yang membludak. Akibatnya TPS di sekitar area permukiman tidak bisa mengirim sampahnya ke TPA dan akhirnya sampah di TPS menumpuk dan menebar bau ke sekitarnya. Padahal masalah sampah tidak bisa disepelekan ya, karena selain kotor dan bau, penyakit juga bisa ikut menyebar ke pemukiman warga.
Tetap Ngangenin
Walau banyak masalah seperti saya sebutkan tadi (dan tentu banyak masalah lain juga yaa), tapi buat saya Bandung tetap selalu ngangenin. Toh sepertinya setiap kota juga pasti ada saja masalahnya kan. Saya belum pernah sih meninggalkan Bandung dalam waktu lama. Paling lama saya meninggalkan Bandung dulu itu selama 2 bulan saat saya menemani kakak saya yang baru pindah ke Australia. Itupun rasanya sudah kangen sekali sama Bandung. Selain tentu keluarga, yang paling dikangenin dari Bandung pastinyaaa…
Makanannya! Hehehe…
Bandung memang cukup dikenal sebagai kota dengan kulinernya yang menggiurkan. Bahkan kuliner kreatif asal Bandung juga sering menjadi viral di dunia maya. Tapi tetap buat saya sih makanan paling ngangenin asal Bandung ya yang klasik alias yang sudah ada sejak lama, bukan yang cepat viral tapi juga cepat hilang dari pasaran. Hehe…
Kuliner paling khas Bandung yang sudah ada sejak lama salah satunya adalah olahan aci. Di Bandung ini ada banyak sekali jenis olahan aci yang mudah dijumpai baik di gerobak pinggir jalan maupun di cafe-resto. Cireng, cilok, cilor, cimol, cimin, cibay, cirambay, cilung, cipuk, baso aci termasuk jenis olahan aci yang cukup mudah dicari. Dari begitu banyak jenis olahan aci, pasti kalau jauh dari Bandung akan kangen minimal salah satunya kan. Belum lagi olahan turunan dari kerupuk aci yang belakangan ini semakin viral: seblak. Tekstur kenyal kerupuk aci rebus bergabung dengan wangi khas kencur dan bumbu pedasnya itu benar-benar ngangenin sih buat saya.
Kuliner legendaris lainnya, khususnya yang selalu bikin kangen kampus bagi para alumni adalah lumpia basah. Sepertinya sebagian besar alumni ITB yang sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia akan menyempatkan diri jajan lumpia basah saat berkesempatan main ke kampus lagi. Tidak hanya soal rasanya, tapi pasti juga banyak memori yang membuat lumpia basah kampus itu selalu ngangenin.
Ada lagi siomay dan juga batagor yang juga buat saya ngangenin banget. Meski bukan makanan asli Bandung, siomay yang konon resep asalnya dari Cina ini tetap paling enak yang asal Bandung. Karena siomay dengan tambahan bumbu kacang pedas sudah paling pas di lidah. Batagor pun sama, jelas jauh lebih enak dengan tambahan bumbu kacangnya. Tapi meski ada batagor dan siomay yang sangat terkenal dan sempat jadi oleh-oleh wajib asal Bandung sampai antriannya mengular (sebut saja namanya Kings**y), tapi buat saya kadang masih lebih enak siomay dan batagor gerobakan sih. Terutama mungkin karena siomay dan batagor Kings**y itu buat saya sangat overpriced ya. Hehe…
Masih banyak lagi sih sebenarnya kuliner lain yang sering bikin kangen Bandung, nggak cukup untuk dibahas dalam 1 tulisan ini. Tapi selain makanannya, buat saya Bandung juga sering bikin kangen karena mudahnya akses wisata. Mau healing dengan shopping di mal? Banyak pilihan mal yang bisa dikunjungi. Cari ruang terbuka tapi nggak mau jauh-jauh? Taman kota di Bandung banyak yang bisa untuk ajak main anak-anak. Mau main di alam bebas? Sangat banyak juga pilihan wisatanya dan jaraknya masih cukup terjangkau walau harus sedikit ke pinggiran kota. Jadi tidak perlu effort besar sudah bisa dapat banyak pilihan tempat wisata, dan budget pun bisa disesuaikan karena banyaknya pilihan jenis wisata. Gimana nggak ngangenin kan Bandung itu?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSetuju, Teh Echa... Bandung buat saya juga adalah kota kecintaan, yang selalu ngangenin biarpun masih banyak masalah yaa... semoga ke depannya bisa segera tersedia solusinya.
BalasHapusKalau weekend orang yang punya Bandung kayanya mending memilih melipir di rumah masing-masing aja ya. Biarkan para turis dan wisatawan menyerbu kota.
BalasHapusSaya, saya, saya *ngacung, saya kangen Bandung selalu, apalagi abis baca tulisan Teh Echa ini heuheuu.
BalasHapusWalaupun Bandung gak seadem dan sesejuk dulu, gak pernah bosan dengan kota ini. Mana banyak kenangan indahnya pula, eaaa eaaa.
Btw, sama kayak Teh Echa, saya sukanya kuliner yang klasik, kalau yang viral-viral gitu kebanyakan kalorinya besar-besar ya Teh.
cimin, cibay, cirambay, cilung, cipuk ….saya gak tahu itu.. yang saya tahu hanya cireng, cilok, cimol, cilor
BalasHapusMemang Bandung kreatif kalau soal aci. (Sari Rochmawati, rochma.writer512@gmail.com )
Setuju teh, walau udah ga di Bandung selamanya kota kembang akan selalu dikenang. Tempat saya menemukan jati diri, teman2 yg awet, dan pasangan hidup juga ketemu di kota ini. Cilok oh cilok, favorit!
BalasHapusBandung kapan sepinya? Kapan nggak macetnya? Udah bikin jalan layang yang katanya buat memperlancar lalu lintas, ternyata tetep aja macet? Kok bisa?
BalasHapusKangen Bandung ... tapi versi pas jaman kuliah tahun 90an dulu di mana seharian masih bisa pamer eh, pake jaket almamater. Hihihi 🤭🤭