" Yang rajin ya belajar di sekolah, biar pinter !" Sepertinya itu pesan yang pasti pernah diterima oleh anak-anak dari orang dewasa di sekelilingnya. Dulu ketika mendengar pesan semacam itu ya saya menginterpretasikan artinya adalah saya harus rajin datang ke sekolah, duduk di kelas mendengarkan guru, dan mengerjakan semua tugas yang diberi oleh guru. Namanya belajar di sekolah ya artinya duduk di kelas, ada guru, ada buku. Namun semakin besar, saya semakin sadar bahwa ternyata belajar itu tidak hanya dengan cara duduk di kelas, tapi juga dari kegiatan lain di luar kelas. Saya juga jadi sadar bahwa pintar itu bukan sekedar paham yang diajarkan oleh guru dan mendapat nilai ujian yang bagus. Ada banyak kemampuan lain terkait kehidupan yang tidak ada teorinya di buku pelajaran tapi harus tetap kita kuasai. Istilah lainnya, soft skill . Saya merasa bahwa saya banyak mendapat kesempatan melatih dan mengembangkan soft skill itu lewat kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, bukan di ...
Ketika membaca tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober ini, yaitu “Menyelami Orisinalitas dalam Adaptasi Karya Lintas Medium”, yang muncul pertama kali dalam pikiran saya adalah buku dan film “Imperfect”. Padahal banyak sekali judul film yang diadaptasi dari buku yang sudah saya tamatkan keduanya, tapi entah mengapa judul pertama yang terlintas adalah “Imperfect”. Karena satu dan lain hal yang membuat waktu saya tersita banyak di bulan ini, akhirnya saya memutuskan untuk mengulas film dan buku ini saja untuk tantangan, karena tidak sempat lagi memikirkan judul lain. Buku Non Fiksi, Film Fiksi “Imperfect” merupakan buku yang ditulis oleh Meira Anastasia. Judul lengkapnya sebenarnya adalah “Imperfect: a Journey to Self-Acceptance”. Buku ini merupakan buku non fiksi, berisi curahan hati Meira tentang perasaan insecure yang dimilikinya akibat kondisi fisiknya yang dirasa jauh dari ideal. Juga bagaimana perjalanan yang dilalui Meira sampai akhirnya menemukan cara un...