Semakin dewasa, ternyata preferensi saya terhadap makanan bisa banyak berubah loh. Ada makanan yang dulu saya suka tapi sekarang jadi jarang saya makan. Sebaliknya ada makanan yang dulu tidak pernah saya sentuh tapi sekarang saya sukai. Dan setelah dipikir-pikir, ternyata pilihan makanan saya semakin mengarah ke makanan yang lebih sehat. Misalnya saja dulu saya menganggap daun pepaya dan pare/paria itu tidak layak dimakan karena rasanya yang sangat pahit. Namun sekarang jika membeli pecel dan ada daun pepaya sebagai pilihan sayur, saya akan dengan senang hati memasukkan daun pepaya ke dalam pecel saya. Begitu juga dengan pare, jika sedang berkunjung ke rumah mama dan ada olahan pare di meja makan, saya tidak lagi segan mengambilnya sebagai lauk makan siang. Contoh lain, dulu saat makan di resto, cafe, atau sekedar jalan-jalan di mal saya seringnya memilih minuman manis creamy seperti milkshake , smoothies , milk tea , atau boba. Namun sekarang, rasanya lebih nyaman jika minum wedang h...
" Yang rajin ya belajar di sekolah, biar pinter !" Sepertinya itu pesan yang pasti pernah diterima oleh anak-anak dari orang dewasa di sekelilingnya. Dulu ketika mendengar pesan semacam itu ya saya menginterpretasikan artinya adalah saya harus rajin datang ke sekolah, duduk di kelas mendengarkan guru, dan mengerjakan semua tugas yang diberi oleh guru. Namanya belajar di sekolah ya artinya duduk di kelas, ada guru, ada buku. Namun semakin besar, saya semakin sadar bahwa ternyata belajar itu tidak hanya dengan cara duduk di kelas, tapi juga dari kegiatan lain di luar kelas. Saya juga jadi sadar bahwa pintar itu bukan sekedar paham yang diajarkan oleh guru dan mendapat nilai ujian yang bagus. Ada banyak kemampuan lain terkait kehidupan yang tidak ada teorinya di buku pelajaran tapi harus tetap kita kuasai. Istilah lainnya, soft skill . Saya merasa bahwa saya banyak mendapat kesempatan melatih dan mengembangkan soft skill itu lewat kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, bukan di ...