"Yang rajin ya belajar di sekolah, biar pinter!"
Sepertinya itu pesan yang pasti pernah diterima oleh anak-anak dari orang dewasa di sekelilingnya. Dulu ketika mendengar pesan semacam itu ya saya menginterpretasikan artinya adalah saya harus rajin datang ke sekolah, duduk di kelas mendengarkan guru, dan mengerjakan semua tugas yang diberi oleh guru. Namanya belajar di sekolah ya artinya duduk di kelas, ada guru, ada buku.
Namun semakin besar, saya semakin sadar bahwa ternyata belajar itu tidak hanya dengan cara duduk di kelas, tapi juga dari kegiatan lain di luar kelas. Saya juga jadi sadar bahwa pintar itu bukan sekedar paham yang diajarkan oleh guru dan mendapat nilai ujian yang bagus. Ada banyak kemampuan lain terkait kehidupan yang tidak ada teorinya di buku pelajaran tapi harus tetap kita kuasai. Istilah lainnya, soft skill.
Saya merasa bahwa saya banyak mendapat kesempatan melatih dan mengembangkan soft skill itu lewat kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, bukan di dalam kelas. Lewat ekskul juga ada banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan.
Sejak SD hingga SMA saya selalu mengikuti kegiatan ekskul di sekolah. Di SD saya ikut ekskul angklung, di SMP saya ikut ekskul PMR (Palang Merah Remaja), dan di SMA saya memilih ikut ekskul KPA (Keluarga Paduan Angklung) yang semuanya membuka jalan menambah pengalaman yang sangat banyak.
Sejak mengikuti beberapa ekskul berbeda, saya jadi sadar bahwa saya pergi ke sekolah bukan hanya untuk belajar di kelas. Justru yang menjadi motivasi saya semangat berangkat ke sekolah adalah saat bisa keluar kelas dan masuk ke ruang kecil di samping sekolah yang menjadi ruang basecamp ekskul.
New Experience Unlocked!
Banyak sekali pengalaman baru yang saya dapatkan dari mengikuti ekskul, baik itu di SD, SMP, maupun SMA. Tanpa ikut ekskul, sepertinya saya tidak akan pernah punya kesempatan untuk mencoba berbagai hal ini.
Perdana Masuk TV
Angklunglah yang membawa saya bisa syuting dan masuk TV, bahkan sampai dua kali. Sekali saat ikut angklung di SD dan sekali saat ikut angklung di SMA. Di SD saya terpilih jadi anggota tim yang bermain angklung di salah satu acara anak yang saya lupa judul acaranya, tapi saya ingat ditayangkan di stasiun televisi TPI. Sementara saat SMA saya bersama tim angklung menjadi salah satu bintang tamu di program Kick Andy di Metro TV.
Saya jadi tahu bentuk stasiun TV seperti apa. Tahu rasanya menunggu giliran syuting sampai masuk studio dengan banyak kamera dan kru acara. Menyenangkan, apalagi ketika menonton siarannya di TV bersama keluarga, ada rasa bangga terselip di sana. Hehe...
Perdana Camping dan Outbound di Alam
Sebagai anak rumahan, bermalam di luar rumah seperti menginap di rumah saudara jarang sekali saya lakukan. Makanya pengalaman pertama bermalam di luar rumah adalah ketika ada latihan khusus PMR saat SMP. Camping sambil outbound di alam jadi pengalaman yang tidak terlupakan.
Melakukan long march menuju lokasi outbound memang melelahkan sekali. Namun keindahan pemandangan alam sepanjang long march, serta keseruan acara setelah sampai lokasi bisa menghilangkan rasa lelah tersebut. Banyak pengalaman dan ilmu baru yang didapat dari latihan khusus yang seru itu.
Contoh latihan khusus PMR sambil camping dan outbound.
Sumber gambar: https://smpn1klirong.sch.id/
Perdana Dipilih Jadi Pemimpin
Sebenarnya saya agak lupa, tapi seingat saya di PMR SMP saya dulu sistem yang digunakan untuk memilih komandan PMR adalah penunjukkan langsung oleh senior dan pelatih. Kebetulan, saya yang dipilih menjadi komandan PMR di angkatan saat itu.
Itu pertama kalinya saya terpilih menjadi pemimpin. Bahkan sebelumnya menjadi ketua kelompok belajar yang berisi 5 orang saja belum pernah. Tiba-tiba dipilih menjadi ketua sebuah ekskul ya agak kaget juga. Namun dari situ saya belajar sangat banyak. Soal leadership, soal pengambilan keputusan, soal komunikasi, dan banyak lagi. Pengalaman luar biasa yang sangat bermanfaat dalam kehidupan saya sejak saat itu.
Perdana Ke Eropa
Dari semua pengalaman baru yang saya ceritakan, ini adalah pengalaman yang paling berkesan. Mendapat kesempatan membawa salah satu budaya Indonesia berupa musik angklung kepada masyarakat di Eropa dalam perjalanan selama 40 hari, itu adalah pengalaman paling berharga sepanjang hidup saya.
Sebagai anak SMA biasa dan bukan anak dari seorang CEO, jujur saja pergi ke Eropa adalah sebuah mimpi yang rasanya jauh sekali untuk bisa digapai. Tapi tiba-tiba saya mendapat kesempatan pergi ke 6 negara berbeda dalam 40 hari bersama teman-teman satu tim di KPA, rasanya memang seperti mimpi. Bahkan sampai sekarang pun kadang saya masih suka takjub, kok Allah baik sekali memberi saya kesempatan pergi ke Eropa di usia saya yang bahkan belum 17 tahun saat itu.
Terpilih untuk berangkat tidak serta merta langsung dapat tiket duduk di pesawat. Ada banyak yang harus kami perjuangkan saat itu untuk akhirnya bisa berangkat, dan karena itu ada luar biasa banyak ilmu dan pelajaran yang bisa saya ambil. Pencarian sponsor, donatur, hingga konser penggalangan dana kami urus sendiri. Belum lagi latihan otak menghafal puluhan lagu untuk dimainkan, hingga latihan fisik agar badan tidak lemah untuk angkut koper dan logistik tim yang bejibun.
Mengasah Soft Skill
Tidak hanya banyak pengalaman baru yang saya dapat, tapi saya juga dapat banyak kesempatan mengasah soft skill dari ekskul yang saya ikuti di sekolah. Ilmu yang tidak banyak dijelaskan oleh guru di dalam kelas, tapi justru saya dapatkan dari aktivitas ekskul.
Kepemimpinan
Dari pengalaman terpilih menjadi ketua PMR, tentu soft skill kepemimpinan saya terlatih. Saya jadi belajar mengatur organisasi dan kegiatan di dalamnya, belajar mengatur orang-orang di dalam organisasi tersebut, hingga belajar mengambil keputusan.
Meski ekskul di SMP itu masih banyak campur tangan pihak sekolah dan alumni sebagai pelatih, tapi ketua tetap diberi kepercayaan besar dalam mengatur kegiatan di dalamnya. Dengan kepercayaan itu, saya juga jadi semakin banyak belajar soal bertanggung jawab terhadap semua perbuatan dan keputusan yang saya ambil.
Kemampuan Komunikasi
Masuk dalam ekskul berarti harus menghadapi banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Jadi kemampuan komunikasi harus terus dilatih karena berbeda karakter kadang harus berbeda juga cara komunikasinya. Apalagi saat saya dipilih menjadi ketua, saya harus belajar berkomunikasi bukan hanya dengan sesama anggota ekskul PMR, tapi juga dengan pelatih dan juga guru sekolah.
Saat di ekskul SMA, semua penampilan angklung baik penampilan di sekolah sampai konser selalu kami sendiri yang urus. Dan dalam perjalanannya pasti harus berkomunikasi dengan banyak pihak. Paling ribet kalau membuat konser orkestrasi sendiri, karena banyak sekali pihak yang harus diajak komunikasi, seperti sponsor, donatur, venue, sampai bintang tamu.
Dan dalam perjalanan eksibisi angklung ke Eropa kemampuan komunikasi dalam bahasa asing tentu saja ikut diasah. Karena perjalanannya dilakukan ke banyak negara, tentu bahasa Inggris menjadi yang utama digunakan, meski kadang warga lokal ada saja yang kurang lancar berbahasa Inggris. Jadi pada akhirnya bahasa kalbu dan bahasa isyarat juga terpaksa kami gunakan untuk berkomunikasi. Hehe…
Kerja Sama Tim
Yang namanya organisasi meski hanya level ekskul sekolah pasti terdiri dari banyak kepala dan membutuhkan kerja sama tim yang baik. PMR dilatih menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesehatan dan keselamatan di sekolah, dan tentu perlu bekerja dalam tim untuk pelayanan tersebut. Jadi kerja sama tim pasti ikut dilatih kepada seluruh anggotanya.
Angklung pun merupakan alat musik yang harus dimainkan dalam tim, jadi untuk menghasilkan musik yang harmonis sudah pasti dibutuhkan kekompakan tim. Tidak hanya di atas panggung saat memainkan musik, tapi kekompakan tim juga selalu dibutuhkan dalam setiap kegiatan. Terlebih untuk kegiatan eksibisi ke Eropa yang saya ceritakan sebelumnya, semua persiapan seperti pencarian sponsor hingga penyelenggaraan konser harus kami kerjakan bersama. Pada saat perjalanan di luar negeri pun kami harus selalu kompak karena semua kebutuhan tim harus kami urus sendiri. Saling bantu sudah menjadi kewajiban bagi kami semua.
Kemampuan Adaptasi
Saya merasa kemampuan adaptasi saya banyak terlatih selama kegiatan eksibisi ke Eropa. Kami berulang kali dihadapkan pada kondisi tidak ideal yang memaksa kami untuk segera beradaptasi. Misalnya, sejak hari pertama tiba di Eropa pun kami sudah harus dihadapkan masalah logistik kami tertahan di bandara, sehingga untuk konser pertama kami harus menggunakan angklung pinjaman yang kondisinya kurang baik. Kami harus cepat beradaptasi dengan angklung pinjaman itu karena bagaimanapun juga konser harus terus berjalan.
Belum lagi soal cuaca, makanan, sampai tempat tinggal karena selama 40 hari kami harus terus berpindah kota dan negara. Kami harus cepat beradaptasi dengan jenis makanan yang jauh berbeda dengan di tanah air. Pernah kami terpaksa menahan lapar karena makanan yang disajikan panitia ternyata makanan non halal padahal anggota tim mayoritas muslim. Soal tempat tinggal juga kami harus terus beradaptasi karena ada saja kondisi yang tidak biasa, seperti toilet yang tidak ada air untuk cebok, lampu kamar tiba-tiba mati, heater rusak, dan lain sebagainya. Semua masalah itu melatih kami untuk menjadi lebih fleksibel sehingga lebih mudah beradaptasi.
Penutup
Dari pengalaman saya selama masa sekolah, saya merasa saya berkembang banyak justru selama ekskul, terutama saat SMP dan SMA. Basecamp PMR di SMP 14 Bandung dan ruang KPA di SMA 3 Bandung memang hanya sebuah ruang kecil yang saat itu terletak di lorong kecil samping sekolah. Namun ruang kecil itu memberi ilmu yang luar biasa banyak, pengalaman yang luar biasa berkesan, dan memori yang menghangatkan hati untuk dikenang sampai saat ini. Sampai saat ini saya selalu sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari PMR SMP 14 dan KPA SMA 3 Bandung, karena semua waktu yang saya habiskan di sana sudah membentuk saya yang sekarang.
—
Tulisan ini diikutsertakan dalam Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari 2026 dengan tema Tempat/Lokasi Yang Membentukku.





Wow, anak SMA 40 hari keliling 6 negara Eropa ramai-ramai kebayang banget serunya. Pasti impian banyak anak-anak nih. Keren banget KPA-nya SMA 3 Bandung.
BalasHapusTeh Echa, awal awal baca aku nebak ini kayanya anak SMA 3 deh, eh ternyata bener. Pastinya kenal sama Muchamad Achir kan, teman SMP ku , kakak kelas deng :). Seru banget perjalanan sama teman-teman Angklung dan PMR, aku setuju sih, kegiatan di luar sekolah itu sebetulnya sangat bermanfaat, dan pastinya bikin semangat ke sekolah daripada hanya belajar terus.
BalasHapus