Semakin dewasa, ternyata preferensi saya terhadap makanan bisa banyak berubah loh. Ada makanan yang dulu saya suka tapi sekarang jadi jarang saya makan. Sebaliknya ada makanan yang dulu tidak pernah saya sentuh tapi sekarang saya sukai. Dan setelah dipikir-pikir, ternyata pilihan makanan saya semakin mengarah ke makanan yang lebih sehat.
Misalnya saja dulu saya menganggap daun pepaya dan pare/paria itu tidak layak dimakan karena rasanya yang sangat pahit. Namun sekarang jika membeli pecel dan ada daun pepaya sebagai pilihan sayur, saya akan dengan senang hati memasukkan daun pepaya ke dalam pecel saya. Begitu juga dengan pare, jika sedang berkunjung ke rumah mama dan ada olahan pare di meja makan, saya tidak lagi segan mengambilnya sebagai lauk makan siang.
Contoh lain, dulu saat makan di resto, cafe, atau sekedar jalan-jalan di mal saya seringnya memilih minuman manis creamy seperti milkshake, smoothies, milk tea, atau boba. Namun sekarang, rasanya lebih nyaman jika minum wedang hangat seperti wedang jahe, wedang uwuh, atau wedang ronde. Kadang juga saya memilih jamu seperti kunyit asam, temulawak, bahkan beras kencur.
Perubahan ini yang ingin saya tuliskan untuk menjawab tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret 2026 tentang "Aku Dulu vs Aku Sekarang".
Perubahan Preferensi
Awalnya saya berpikir alasannya ya mungkin karena semakin dewasa ya semakin mindful saja dalam melakukan segala hal, termasuk makan. Tapi setelah saya coba cari tahu lebih lanjut, ternyata tidak sesimpel itu. Menarik bahwa ternyata kondisi biologis ketika bertambah dewasa juga ikut berpengaruh terhadap preferensi kita terhadap makanan.
Sadar Kesehatan
Semakin dewasa, biasanya memang orang semakin peduli pada kesehatannya. Orang dewasa sudah memahami dampak dari makanan yang dikonsumsinya terhadap kesehatan, sehingga akan memilih makanan yang lebih seimbang. Informasi soal kesehatan juga saat ini semakin mudah didapatkan lewat televisi, media sosial, atau dari orang terdekat. Semua informasi itu mungkin lebih mudah mempengaruhi orang dewasa untuk mengubah kebiasaan makan lama yang mungkin kurang baik. Jadi meski mungkin makanan sehat sebelumnya kurang disukai, tapi dengan adanya keinginan untuk hidup lebih sehat akhirnya makanan yang kurang enak namun menyehatkan itu tetap berusaha dimakan.
Perbedaan Metabolisme Tubuh
Semakin dewasa, bisa terjadi perlambatan dalam metabolisme tubuh. Biasanya makanan yang kurang sehat membuat tubuh bekerja lebih keras untuk mencernanya, sehingga efek dari makan makanan kurang sehat akan jauh lebih terasa. Misalnya, makan terlalu banyak karbo lebih cepat bikin ngantuk. Atau makan terlalu banyak lemak bikin berat badan sangat cepat naik. Efek ini pada akhirnya menyebabkan badan terasa tidak nyaman.
Sebaliknya, ketika makan makanan sehat, tubuh memproses makanan tersebut dengan lebih cepat, sehingga tidak menimbulkan efek samping seperti cepat mengantuk, badan lemas, perut begah, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, karena badan terasa lebih enak setelah makan makanan sehat, orang dewasa akan cenderung memilih makanan yang sehat saja.
Perubahan Sel Taste
Ternyata, semakin dewasa bukan hanya metabolisme yang berubah, tapi sel taste atau sel perasa pada lidah juga mengalami perubahan. Sel taste adalah struktur kecil di lidah yang bertanggung jawab untuk mendeteksi rasa manis, asin, pahit, asam, dan umami. Ada bagian sel taste yang berfungsi mendeteksi rasa sampai mengirim sinyal rasa ke otak.
Saat bertambah usia, jumlah sel taste juga bisa menurun dan membuat lidah jadi kurang sensitif terhadap rasa-rasa tertentu. Selain itu struktur sel taste juga bisa berubah seiring waktu, sehingga membuat mereka kurang efektif dalam mendeteksi rasa. Hal ini tentu berpengaruh terhadap cara menilai rasa makanan.
Misalnya saja, saat masih kecil atau remaja lidah lebih sensitif terhadap rasa pahit. Makanya seringkali anak tidak suka sayur karena rasanya cenderung pahit. Namun seiring bertambah usia sensitivitas terhadap rasa pahit bisa menurun. Makanan yang dulu terasa pahit sekarang jadi lebih ringan dan lebih mudah diterima oleh lidah. Bahkan kadang jadi lebih mudah untuk ditemukan nikmatnya.
Dulu makanan seperti ini tidak akan saya pilih. Tapi sekarang, lihat fotonya saja bikin lapar. Hehe...
foto: Instagram/@seto_beri
Makan Untuk Hidup Atau Hidup Untuk Makan?
Pertanyaan klasik yang masih sering jadi perdebatan. Makan untuk hidup artinya makan dianggap sebagai aktivitas bertahan hidup. Fokusnya hanya kepada nutrisi yang dibutuhkan sebagai bahan bakar untuk tubuh. Makanan yang dipilih untuk dimakan harus makanan sehat. Meskipun rasanya kurang enak, tetap harus dimakan karena dampaknya yang baik untuk kesehatan tubuh. Pola makan diatur dengan benar dari mulai waktunya, porsinya, hingga komposisinya. Efeknya memang bisa bagus untuk tubuh karena yang masuk ke badan betul-betul sesuai kebutuhan.
Sementara hidup untuk makan artinya makan dianggap sebagai aktivitas untuk menemukan kebahagiaan. Yang dicari dari makan adalah enaknya. Meski kadang kurang sehat, selama itu bisa membuat hati bahagia, ya tetap dimakan. Kegiatan makan bukan sekedar menghilangkan lapar tapi menjadi kegiatan rekreasional. Kadang malah menjadi "pelarian" ketika suasana hati kurang baik. Kesal sedikit, langsung bilang butuh makanan manis untuk mengembalikan mood. Lagi wisata ke tempat baru, semua jenis kuliner dilahap tanpa mempertimbangkan komposisi maupun porsi.
Lalu mana yang lebih baik di antara keduanya? Pendapat saya pribadi sih, segala yang terlalu ekstrem tetap kurang baik. Jika secara ekstrem memilih makan untuk hidup, makan bisa jadi kehilangan nikmatnya. Hanya karena lemak dianggap tidak sehat jadi hanya makan dada ayam, itupun hanya boleh diolah tanpa minyak. Natrium juga dianggap berbahaya sehingga semua masakan jadi minim bumbu. Akhirnya makan menjadi tidak menyenangkan, hanya dilakukan seperti kewajiban saja.
Sebaliknya jika memilih hidup untuk makan, bisa jadi kebablasan jika selalu berlindung di balik kalimat "yang penting happy". Gula darah bisa tidak terkontrol, lemak bertumpuk, pada akhirnya kesehatan bisa ikut terganggu. Apalagi kalau tidak didukung aktivitas fisik yang cukup. Ketika kesehatan terganggu, tentu tidak bisa terus happy kan?
Penutup
Pada akhirnya, menurut pendapat saya memang semua harus seimbang. Tetap makan untuk hidup, tapi tetap menikmati hidup lewat makan. Artinya sehari-hari makan cukup sehat tapi tetap sesekali beri ruang untuk makanan enak (walau kurang sehat) tanpa rasa bersalah. Jadi harus selalu sadar kapan makan karena lapar, kapan karena ingin menikmati. Bahasa kerennya sih, mindful eating. Sehat dapat, kenyang dapat, nikmatnya juga dapat.



Komentar
Posting Komentar