Kemarin jadi hari yang sangat kelam bagi seluruh atlet maupun pecinta olahraga badminton di Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah badminton Indonesia, tim Indonesia gagal lolos fase grup di kejuaraan tim paling bergengsi: Thomas Cup. Dalam gelaran Thomas Cup yang dilaksanakan di Denmark tahun 2026 ini, Indonesia berakhir di posisi ke-3 di grup, yang artinya tim Thomas gagal melanjutkan perjalanan ke babak perempat final. Ini adalah capaian terburuk. Belum pernah Indonesia gagal lolos di fase grup sejak gelaran ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1958. Padahal, dalam gelaran Thomas Cup tahun ini, tim Indonesia adalah tim unggulan kedua setelah Tiongkok. Namun sayang, tim Thomas ternyata gagal mencapai hasil yang diharapkan oleh semua badminton lovers di Indonesia.
Awalnya tim Thomas memulai laga di gelaran ini dengan meyakinkan, menang 5-0 melawan Aljazair. Namun hal ini sebenarnya sangat wajar, mengingat Aljazair memang bukan negara yang memiliki atlet badminton dengan kualitas dunia. Di atas kertas memang peringkat pemain Indonesia sangat jauh di atas Aljazair.
Firasat buruk sebenarnya sudah mulai terasa di laga kedua ketika tim Indonesia berhadapan dengan Tailan. (FYI, per Januari 2026, penulisan dalam Bahasa Indonesia yang resmi dan baku adalah Tailan ya, sementara Thailand adalah penulisan dalam Bahasa Inggris.) Saat itu Tim Thomas cukup membuat para badminton lovers ketar-ketir karena harus melewati laga yang berat. MS1 dan MS2 gagal menyumbang poin karena Jojo kalah dari Kunlavut sementara Alwi kalah dari Panitchapon. Untungnya Sabar/Reza menang melawan Chaloempon/Worrapol. Disusul pasangan gado-gado Fajar/Joaquin yang juga menang melawan Peeratchai/Pakkapon meski harus melewati rubber game yang sangat sengit dan drama 6 kali service fault yang cukup membuat geram. Akhirnya Indonesia berhasil mengantongi kemenangan dengan skor 3-2 setelah Ubed mengalahkan Tanawat Yimjit dengan cukup santai di pertandingan penutup.
Setelah melawan Tailan, laga penentuan adalah melawan Prancis. Harus diakui, pemain Prancis saat ini memang sedang mengalami peningkatan. MS mereka yaitu duo Popov (Christo dan Toma Junior) serta Alex Lanier secara statistik memang sedang meningkat performanya. Sementara Indonesia sebaliknya, justru sedang mengalami penurunan. Itulah yang membuat badminton lovers ketar-ketir menanti pertandingan Indonesia - Prancis. Benar saja, tim Indonesia harus menelan pil pahit karena kalah dengan poin 1-4 dari Prancis. Padahal sebenarnya dari klasemen grup sebelum laga penentuan, Indonesia hanya butuh mencuri 2 poin saja dari Prancis. Seandainya kalah dengan poin 2-3, Indonesia masih bisa lolos ke perempat final dengan posisi runner-up grup. Sayangnya, 2 poin pun tidak bisa diambil oleh tim Thomas.
Sebagai salah satu badminton lovers tentu saya sangat sedih dan kecewa. Jujur saja saya sebenarnya sangat terkejut dengan hasil ini. Meskipun sejak awal bisa dibilang saya memang tidak terlalu berekspektasi tinggi dengan pencapaian tim Thomas, tapi tidak pernah terbayangkan kalau mereka akan gugur secepat ini. Kalah di final? Bisa dimengerti. Kalah di semifinal? Juga masih bisa dimengerti. Tapi kalah di fase grup? Ini sangat mengejutkan, dan kalau boleh dibilang, cukup memalukan, mengingat selama ini Prancis bukan negara yang terbilang kuat di badminton, dan squad Prancis yang turun di laga melawan Indonesia hanya 5 orang.
Tertinggal, Kena Mental
Entah apakah Prancis yang menurunkan 5 pemain saja adalah strategi yang disengaja atau tidak. Yang jelas, hal itu menguntungkan mereka. Dengan Christo Popov dan Toma Junior Popov bermain rangkap di sektor tunggal dan ganda, urutan bermain tim harus berubah. Urutan main yang umumnya MS1-MD1-MS2-MD2-MS3, harus diubah menjadi MS1-MS2-MS3-MD2-MD1 untuk memberi waktu istirahat yang cukup khususnya bagi Toma Junior Popov sebagai MS3.
Seperti yang saya sebut sebelumnya, secara statistik performa MS Prancis sedang meningkat sementara MS Indonesia justru menurun. Di laga pertama, Jojo, yang memang performanya belakangan tidak stabil harus kalah straight set dari Christo Popov. Alwi yang melanjutkan laga kedua juga sama tidak stabilnya di beberapa turnamen terakhir. Kekalahan Jojo juga pasti sedikit banyak memengaruhi mental Alwi yang akhirnya juga dikalahkan straight set oleh Alex Lanier.
Skor yang tertinggal 0-2 membuat beban Ginting di laga ketiga semakin berat. Meski dengan performa yang belum kembali sejak cedera panjang, Ginting nyatanya masih berusaha sekuat tenaga melawan Toma Junior Popov. Memaksa rubber game, berulang kali jatuh bangun di lapangan, hingga deuce poin di gim terakhir, namun ternyata akhirnya Ginting pun tidak berhasil mencuri poin dari Prancis.
Mental pemain Indonesia diuji habis-habisan. Tertinggal 0-3, laga keempat wajib dimenangkan jika ingin lolos ke perempat final. Seharusnya dalam kondisi normal, yang dimainkan lebih dulu adalah Fajar/Fikri sebagai MD1. Namun karena MD 1 Prancis adalah Christo/Toma dan Toma baru saja selesai bermain di laga ketiga, maka MD2 ditarik maju menjadi laga keempat. Sabar/Reza harus main lebih dulu.
Entah apakah beban yang diemban terlalu berat, atau ketegangan yang terlalu intens, atau ada masalah lain seperti kondisi kurang fit dsb, tapi permainan Sabar/Reza sungguh underperform. Padahal di atas kertas ranking Sabar/Reza jauh di atas Eloi Adam/Leo Rossi, 9 berbanding 52. Namun dalam pertandingan memang apa saja bisa terjadi. Sabar/Reza gagal memberikan perlawanan. Laga keempat ditutup dengan kemenangan straight set Prancis. Debut Sabar/Reza di tim Thomas ternyata berakhir tragis. Teriakan tim Prancis atas kemenangan keempatnya berbanding terbalik dengan keheningan di kubu Indonesia. Tiket perempat final jatuh ke tangan Prancis.
MD1 kita, Fajar/Fikri, yang dipaksa bermain di laga terakhir nyatanya sudah tidak bisa lagi memperbaiki keadaan. Indonesia sudah gugur, apapun hasil pertandingan Fajar/Fikri. Namun mereka tetap harus menyelesaikan pertandingan. Fajar/Fikri terlihat memasuki lapangan dengan langkah berat, mata sembab, tanpa senyum. Mungkin sebelumnya sempat menangis saking kecewanya dengan capaian tim mereka yang sangat buruk.
Dengan banyak helaan napas sepanjang pertandingan, Fajar/Fikri ternyata masih punya semangat juang yang tinggi untuk menyelesaikan pertandingan. Meski tidak akan mengubah hasil akhir, mereka tetap berjuang keras untuk memenangkan pertandingan melawan Christo/Toma. Lewat rubber set, Fajar/Fikri berhasil menyumbangkan satu poin untuk Indonesia. Satu poin yang meski tidak mampu meloloskan tim ke perempat final, tapi menunjukkan daya juang mereka yang tinggi. Itu satu hal yang perlu diapresiasi. Terima kasih Fajar/Fikri.
Urutan Main Tidak Menguntungkan
Jika dilihat-lihat, urutan main ketika melawan Prancis sedikit kurang menguntungkan tim Indonesia. MS Indonesia yang performanya kurang baik akhir-akhir ini menyebabkan kekalahan beruntun yang membuat beban di setiap laga selanjutnya terus bertambah berat. Ditambah MD2 harus dimainkan sebelum MD1, membuat beban terberat memang ada di laga Sabar/Reza. Meski jam terbang mereka cukup tinggi karena mereka sudah terhitung senior, tapi sebenarnya mereka baru pertama kali mengikuti ajang Thomas Cup. Biar bagaimanapun, ada perbedaan ketika main beregu dengan main individu. Terlebih di pertandingan kemarin tekanan untuk Sabar/Reza memang luar biasa setelah Indonesia mengalami 3 kekalahan beruntun sebelumnya, sementara Prancis benar-benar berada di atas angin.
Jika boleh berandai-andai, mungkin hasil berbeda akan didapat jika Fajar/Fikri main lebih dulu. Mungkin saja jam terbang mereka yang lebih tinggi di event beregu bisa membawa ketenangan untuk tim. Mungkin seandainya tim Indonesia berhasil mencuri 1 poin lewat Fajar/Fikri terlebih dahulu, Sabar/Reza bisa bermain lebih tenang dan taktis.
Banyak sekali sebenarnya "andai" yang muncul di otak saya. Andai urutan mainnya tidak seperti ini, andai yang turun di MS adalah Ubed dan bukan Alwi, andai yang turun di MD adalah Raymond/Joaquin dan bukan Sabar/Reza, dan masih banyak andai-andai lainnya. Namun apalah gunanya berandai-andai, belum tentu juga hasilnya sesuai harapan jika semua andai itu terlaksana. Toh harus diakui kualitas performa pemain Indonesia memang kurang stabil di beberapa tahun belakangan ini. Itu yang menjadi PR besar bagi seluruh atlet dan jajaran pengurus PBSI.
Evaluasi besar-besaran harus dilakukan oleh seluruh atlet dan pemangku kepentingan di PBSI. Harus dicari masalah yang menyebabkan penurunan kualitas ini, kemudian dicari solusinya. Apakah masalah ada pada mental pemain, kualitas pelatihan, proses regenerasi, atau apa? Karena memang badminton yang sejak dulu menjadi olahraga andalan Indonesia dan membuat Indonesia dikenal di mata dunia, sekarang ini semakin menurun capaian prestasinya. Tidak hanya di salah satu dari 5 sektor di badminton, tapi penurunan itu jelas terlihat di semua sektor.
Comeback Stronger!
Sedih, sungguh sedih melihat capaian tim Thomas kali ini. Saya yang hanya duduk sebagai penonton saja sedih dan sangat kecewa. Entah seperti apa perasaan para pemain di tim Thomas yang sudah mengeluarkan seluruh energinya di lapangan. Pastinya perasaan sedih, marah, kecewa, sampai penyesalan semua bercampur menjadi satu.
Jujur saya paling sedih melihat Fajar. Fajar termasuk salah satu pemain favorit saya, dan melihat raut wajahnya di pertandingan terakhir kemarin ikut membuat saya sedih dan miris. Terlebih beban yang ada di pundaknya sebagai kapten tim, pasti menambah kesedihannya. Ketika ia berperan sebagai kapten, timnya bahkan tidak hanya sekedar kalah melainkan sekaligus mencatatkan sejarah baru yang paling kelam dalam gelaran Thomas Cup. Tidak bisa saya bayangkan badai emosi yang dialami Fajar.
Namun bagaimanapun juga ini adalah bagian dari perjalanan para atlet badminton kita. Menang kalah selalu ada dalam tiap pertandingan. Sekarang mungkin memang badminton berada di fase terendah, tapi seharusnya tidak akan selalu berada di bawah kan? Potensi itu ada, para atlet yang dimiliki Indonesia punya kualitas yang baik, bahkan sangat baik. Hanya saja memang PR besar bagi PBSI adalah bagaimana membina potensi yang luar biasa ini supaya bisa terus bersinar di dunia badminton internasional.
Saya selalu mendukung para atlet Indonesia, apapun hasilnya. Kecewa pasti ada, tapi dukungan akan terus saya berikan kepada mereka yang sudah menumpahkan keringatnya di lapangan. Keluar dari lapangan tanpa cedera saja sudah sebuah pencapaian. Apalagi mereka yang mampu memperlihatkan daya juang tinggi hingga jatuh bangun di lapangan dan bertarung mengeluarkan semua energinya. Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Mungkin bukan sekarang, tapi akan ada waktunya badminton Indonesia kembali bersinar.
Kalian semua keren! Terima kasih sudah mau berjuang untuk Indonesia. Comeback stronger guys!




Komentar
Posting Komentar