Lilin yang sudah disiapkan jika kembali terkena pemadaman
Sama Gelap, Tapi Berbeda
Yang terjadi pada warga di wilayah pemadaman mungkin sama, yaitu semua orang tidak bisa mengakses listrik. Namun dampak dari terputusnya akses listrik itu bisa jadi berbeda bagi tiap orang. Cara setiap orang menyikapinya juga bisa berbeda tergantung dampak yang dirasakannya.
Misalnya, semua pompa air di rumah warga mati. Mungkin ada warga yang tidak terlalu terdampak karena punya bak mandi yang airnya cukup, atau punya toren air di lantai atas yang masih bisa mengalirkan air dengan mengandalkan gravitasi saja. Namun ada yang kalang kabut karena tidak bisa mendapat air sama sekali karena di rumahnya tidak ada ember apalagi bak penampungan air. Padahal tentu saja air adalah kebutuhan yang sangat esensial bagi semua orang.
Ketika listrik mati tiba-tiba di siang hari, semua sama merasakan cuaca yang panas di musim yang menjelang kemarau ini. Atau ketika mati listrik di malam hari, semua sama merasakan gelap. Meski begitu pilihan yang diambil masing-masing orang bisa berbeda. Ada yang memilih pergi saja ngadem ke mal daripada kepanasan siang terik tidak bisa pakai AC, atau memilih makan malam di cafe daripada gelap-gelapan di malam hari. Namun ada sebagian yang tidak punya privilege seperti itu karena berbagai keterbatasan, sehingga harus pasrah saja menahan gerah saat listrik mati siang hari atau bertahan di kegelapan saat listrik mati di malam hari.
Kodnisi ketika terpaksa beraktivitas dalam rumah yang gelap
Ketika kulkas ikut mati karena tidak ada listrik, mungkin kebanyakan orang biasa saja menanggapinya. Tapi ada sebagian ibu-ibu pejuang ASI yang ketar-ketir karena khawatir stok ASIP di freezer mencair. Padahal stok ASIP itu mungkin diperah dengan penuh perjuangan oleh sang ibu sambil bekerja, dan ASIP itu adalah sumber kehidupan bagi bayinya.
Ketika baterai hp atau laptop nyaris mati karena tidak sempat di-charge sebelum pemadaman, sebagian orang mungkin hanya bisa pasrah saja tidak bisa pakai hp atau laptop. Namun ada sebagian orang yang panik karena ada deadline pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Atau ada sebagian orang yang khawatir pekerjaannya terganggu karena harus banyak berkomunikasi lewat hp.
Ketika alat rumah tangga mati dan tidak bisa digunakan, sebagian orang mungkin tidak terlalu terganggu. Tapi ada sebagian pedagang kecil yang bisa kehilangan pemasukan akibat listrik mati. Misalnya pedagang roti rumahan yang tidak bisa memanggang adonan roti yang sudah disiapkan, padahal adonan roti bisa rusak jika terlalu lama berada di suhu ruang. Juga toko atau warung makan kecil yang tidak didatangi karena pelanggan enggan masuk ke toko atau warung yang gelap.
Penutup
Pemadaman listrik di Bandung ini bukan hanya cerita tentang kota yang gelap. Ini bisa menjadi cerita tentang bagaimana sebuah gangguan yang sama ternyata bisa menghasilkan dampak yang berbeda bagi setiap orang.
Mungkin selama ini kita menganggap mati listrik sebagai gangguan sementara yang tinggal ditunggu saja hingga berakhir sendiri. Bersyukurlah jika kita pernah beranggapan seperti itu, karena mungkin artinya kita punya privilege yang tidak dimiliki oleh sebagian orang. Karena bagi sebagian orang, setiap detik yang berlalu tanpa listrik bisa berarti berkurangnya pemasukan, tertundanya pekerjaan, atau hilangnya akses terhadap kebutuhan esensial sehari-hari. Di situlah kita sadar bahwa yang dibagi secara merata hanyalah gelapnya, bukan dampaknya.
Semoga kondisi ini tidak berlangsung lama, dan PLN bisa segera memperbaiki apapun penyebab masalah ini. Supaya semua warga tidak lagi mengalami dampak berat akibat listrik yang terputus.
Tulisan ini dibuat untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni dengan tema “Perbedaan”. Ditulis dalam kondisi rumah gelap akibat pemadaman listrik :)



Komentar
Posting Komentar