Saat membaca utas itu jujur saya langsung mengernyitkan dahi. Ada sedikit perasaan tidak setuju dengan isi utas tersebut, tapi ada sedikit perasaan yang mengatakan pendapat penulis tidak sepenuhnya salah juga. Pendapatnya soal ketika punya anak tidak akan setiap hari tralalatrilili sambil melihat anak bisa dibilang memang benar, karena kita semua pasti setuju kalau punya anak itu berat, banyak sekali perjuangannya. Namun saya bingung kenapa penulis sampai menulis utas ini seakan-akan punya anak itu sangat tidak menyenangkan, bahkan sampai keheranan melihat ada orang yang menjadi pejuang garis dua.
Saya cukup yakin semua perempuan baik yang sudah punya anak, yang belum berencana punya anak, ataupun yang sedang menjadi pejuang garis dua tahu bahwa punya anak memang tidak akan selalu menyenangkan. Pasti ada masa beratnya juga. Namun tidak selalu menyenangkan itu bukan berarti tidak pernah menyenangkan, kan? Pengalaman menyenangkan saat memiliki anak pasti banyak juga untuk mengimbangi masa yang berat.
Sambil masih berpikir saya scroll komentar dari utas tersebut dan menemukan salah satu komentar yang menceritakan pengalamannya bertemu pasien dengan pemikiran mirip seperti penulis utas tentang rasanya punya anak. Ternyata di akhir komentar disimpulkan bahwa pemikiran pada pasien tersebut muncul akibat adanya “luka” masa lalu, atau sekarang sering dikenal dengan istilah inner child.
Ah, saya langsung paham mengapa penulis utas bisa memiliki pemikiran seperti itu. Bisa jadi memang ada luka yang disimpan oleh penulis utas baik disadari ataupun tidak. Karena saya cukup yakin memang benar luka masa lalu yang tidak diobati dengan benar akan berpengaruh terhadap pola pikir maupun perilaku seseorang.
Orang-orang dengan luka seperti itu justru seharusnya mendapat rangkulan, bukan bantahan apalagi sampai cacian. Sayangnya, warganet sekarang ini terlalu mudah meninggalkan komentar di sosial media orang lain. Bahkan tidak jarang komentar yang ditinggalkannya jahat dan bisa menyakiti hati orang yang membacanya.
Pada utas di atas banyak pejuang garis dua yang sakit hati karena penulis utas seakan-akan mempertanyakan apa yang dicari oleh para pejuang garis dua. Dan mereka yang sakit hati itu ada saja yang meninggalkan komentar yang menggunakan kata-kata yang tidak menyenangkan bahkan kasar kepada penulis utas.
Sebagai ibu dari 4 anak, saat membaca utas itu saya kembali mengingat pengalaman saya lebih dari 11 tahun menjadi ibu. Memang perasaan saya sejak jadi ibu itu penuh gejolak, bisa sangat bahagia tapi di waktu lain malah bisa hampir depresi. Namun apakah saya menganggap pengalaman 11 tahun itu sebagai pengalaman yang sangat tidak menyenangkan? Tentu tidak. Memang tidak selalu menyenangkan, tapi secara keseluruhan saya tetap dengan bangga akan bilang mereka adalah anugerah terbesar yang saya miliki.
Ketidaknyamanan yang dirasakan selama hamil rasanya bisa terbayarkan dengan merasakan ada kaki kecil yang menendang di dalam perut, juga mendengarkan detak jantung yang menenangkan dari alat USG. Kesakitan yang dirasakan saat nyaris meregang nyawa di meja persalinan rasanya bisa terbayarkan dengan rasa hangat yang kita rasakan dari badan mungil mereka ketika pertama kali kita peluk. Kelelahan yang dirasakan selama masa menyusui maupun MPASI yang penuh drama rasanya bisa terbayarkan dengan melihat tumbuh kembang mereka dari bayi yang tidak berdaya menjadi anak-anak yang terus semakin mandiri.
Saya menghargai pendapat penulis utas, karena saya sama sekali tidak tahu latar belakang maupun masa lalu dari penulis utas tersebut. Setiap orang tentu saja bisa memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Namun untuk saya pribadi, memiliki anak itu menyenangkan kok. Memang banyak masa sulit, tapi di setiap akhir hari saya selalu memandang wajah mereka yang tertidur dengan penuh rasa syukur. Saya bahagia memiliki mereka di hidup saya.
Komentar
Posting Komentar