Langsung ke konten utama

Malu Bertanya Sesat Di Jalan

Ketika mendengar tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini yaitu “Keputusan Kecil/Sepele yang Mengubah Hidup”, saya sempat lama berpikir apa ya keputusan kecil yang berefek besar di hidup saya? Kok rasanya susah sekali menemukan satu momen ketika saya mengambil keputusan dan akhirnya keputusan tersebut mengubah hidup saya sampai sekarang.

Namun tiba-tiba saya teringat satu kejadian di masa SMP yang membuat saya merutuki diri sendiri dan sejak saat itu bertekad untuk tidak lagi mengulang kesalahan serupa. Kesalahan saya saat itu diakibatkan oleh satu sifat yang sebenarnya dimiliki semua orang meski tingkatnya berbeda-beda. Dan sifat yang saya miliki ini sepertinya cukup berlebihan sehingga akhirnya malah berakibat buruk. Sifat apakah itu? Malu.


Si Pemalu Yang Tidak Terbiasa Mandiri

Saya memang termasuk pemalu sejak dulu. Saya punya kesulitan mengungkapkan pikiran maupun perasaan saya. Bahkan kepada keluarga sendiri pun kadang sulit mengungkapkannya. Saat sedang diliputi perasaan negatif, entah marah, sedih, kecewa, atau lainnya, saya lebih memilih diam. Kadang sambil meneteskan air mata tapi mulut tetap diam seribu bahasa.

Saya ingat saya pernah "dilempar" oleh papa saya ke kasur kamar karena saya menangis tapi tidak bisa menjelaskan alasannya. Entahlah usia berapa, mungkin awal-awal SD. Sudah ditanya berulang kali tapi saya tetap tidak menjawab, dan karena agak kesal akhirnya papa saya "melempar" saya ke kasur. Tenang, bukan KDRT kok, kasurnya spring bed empuk, dan bukan dilempar dari jauh, hanya digendong lalu dilepaskan dari gendongan ke atas kasur. Tapi setiap menceritakan kejadian itu papa memang selalu mendramatisir dengan bilang kalau saya "dilempar".

Ada kejadian lain ketika saya diajak eyang berbelanja di supermarket bersama saudara yang lain, juga rasanya saat usia saya masih awal SD. Saat itu sebenarnya saya ingin jajan keju, karena saya memang suka ngemilin keju yang dipotong kecil-kecil. Tapi saya malu untuk meminta pada eyang. Saya hanya diam lamaaaaaa sekali di depan rak keju, berharap eyang sadar dan membelikannya. Apakah berhasil? Tentu tidak. Eyang sibuk dengan belanjaannya sendiri, dan karena saya tidak minta ya jadinya eyang tidak beli keju. Akhirnya saya hanya bisa gigit jari karena tidak jadi ngemil keju. Ah dasar bocah.

Selain terlalu pemalu, kekurangan saya yang lain adalah bisa dibilang saya kurang mandiri. Maksudnya bukan kurang mandiri dalam mengurus diri sendiri seperti mandi, makan, dan sebagainya ya. Kurang mandiri yang saya maksud terjadi karena sejak saya kecil papa selalu memfasilitasi saya ke mana-mana diantar mobil dan sopir pribadi. Jadi saya tidak pernah bepergian sendiri, apalagi menggunakan kendaraan umum. 

Pertama kalinya saya naik angkot adalah saat saya kelas 1 SMP. Terpaksa, karena kalau tidak salah mobil dan sopir sedang mengantar papa entah ke mana. Itupun papa saya menelepon salah satu guru sekolah yang merupakan kenalan papa dan menitipkan saya untuk dibantu naik angkot. Bahkan akhirnya ada guru lain yang kebetulan pulang searah dengan saya menemani  saya naik angkot yang sama. Entah papa yang terlalu protektif atau bagaimana, tapi ya sampai SMP jadinya saya memang tidak tahu caranya naik angkot.


Malu Bertanya Sesat di Jalan

Kejadian yang bisa dibilang mengubah hidup saya terjadi juga gara-gara angkot, ketika saya kelas 3 SMP. Saat itu saya mengikuti kegiatan ekskul PMR yang diadakan di SMKN 1 Bandung, di Wastukencana seberang balai kota. Karena sudah 2 tahun berlalu sejak pertama kali naik angkot, di kegiatan PMR ini saya sudah lebih sering naik angkot pulang dari sekolah. Namun, saya hanya pernah naik angkot dari sekolah ke rumah saja, belum pernah dari tempat lain.

Saat pertama kali tiba di SMKN 1, saya melihat bahwa angkot kuning Antapani - Ciroyom lewat tepat di depan sekolahnya. "Ah, berarti untuk pulang sudah aman," pikir saya saat itu, karena memang untuk pulang ke rumah saya di Arcamanik saya harus naik angkot Antapani - Ciroyom. Saya pun mengikuti kegiatan PMR di sana dengan tenang karena merasa urusan pulang sudah aman.

Sayangnya karena pengetahuan soal angkot yang minim, saya tidak sadar kalau rute perjalanan angkot dari Terminal Antapani ke Ciroyom bisa berbeda dengan rute perjalanan dari Terminal Ciroyom ke Antapani. Setelah selesai kegiatan PMR, dengan yakin saya naik ke angkot yang lewat di depan SMKN 1 tanpa tahu bahwa angkot yang saya naiki sebenarnya menuju ke Terminal Ciroyom, bukan Terminal Antapani yang merupakan tujuan saya.

Awalnya saya tenang saja duduk di angkot. Setelah beberapa menit perjalanan, saya mulai resah karena jalan yang dilewati angkot sama sekali tidak saya kenal. Semakin jauh angkot berjalan semakin besar juga keresahan saya karena rasanya seperti semakin jauh dibawa menuju negeri antah berantah. Harusnya saat itu saya segera bertanya saja ya ke pak sopir dan memintanya menunjukkan cara menuju ke Arcamanik. Namun karena terlalu malu, saya tetap tidak bertanya apa-apa. Inilah definisi sebenarnya dari malu bertanya sesat di jalan.

Sebenarnya saya gelisah sekali sepanjang perjalanan, berusaha keras mencari landmark apapun yang bisa membuat saya mengenali jalan yang saya lewati, karena memang semuanya terasa sangat asing saat itu. Ketika akhirnya angkot masuk ke sebuah area lapang, saya menemukan tulisan "Ciroyom". Baru saat itu saya sadar kalau saya salah arah. Telmi banget ya? Iya, saya akui kok. Haha...

Setelah sadar pun saya tetap tidak bertanya pada bapak sopir. Ya iyalah, kalau saya bertanya kan pasti sekaligus saya mengakui kesalahan saya, ya jadi dobel dong malunya. Haha.. Setelah angkot berhenti saya buru-buru keluar angkot dan memberi uang tanpa sepatah katapun, lalu jalan keluar area terminal. 

Saya lalu berdiri di pinggir jalan dan berpikir sejenak. Kalau diingat-ingat memang di depan SMKN 1 tadi kan jalurnya searah, jadi angkot Antapani yang lewat ya hanya menuju satu arah saja, tidak ada yang menuju arah sebaliknya. Sepertinya itu yang membuat saya lupa kalau tidak semua angkot Antapani-Ciroyom itu menuju Antapani, ada juga yang menuju Ciroyom. Bisa-bisanya saya tidak berpikir sampai sana. Ampuuunnn... 

Karena sudah berada di Terminal Ciroyom, saya yakin angkot yang keluar dari terminal itu pasti menuju Antapani, tidak mungkin tidak! Jadi saya langsung menghentikan satu angkot dan naik. 


Bertanyalah Sebelum Tersesat!

Di perjalanan pulang yang cukup panjang dari ujung trayek ke ujung lainnya saya terus berpikir. Kok ya bisa saya sebodoh itu, tidak ingat bahwa satu trayek itu bisa ada dua tujuan. Kok ya bisa juga saya sebegitu yakinnya naik angkot di depan SMKN 1 tanpa bertanya ke siapapun ke mana tujuan angkot itu, padahal ada banyak sekali orang di kegiatan ekskul PMR itu yang bisa saya tanya.

Yang lebih tidak habis pikir, kok bisa ketika saya mulai sadar ada yang tidak beres saya tetap diam karena malu untuk bertanya. Padahal, jika saya segera bertanya dan turun dari angkot untuk pindah ke angkot di arah sebaliknya pasti perjalanan saya tidak akan terlalu panjang. Ongkos bisa lebih dihemat, waktu tidak terbuang percuma, saya juga bisa segera istirahat di rumah. Padahal saya sudah sejak kecil paham dengan pepatah "malu bertanya sesat di jalan" tapi kok ketika kejadian tetap malu bertanya. Akhirnya tersesat beneran kan?

Saat itu juga saya bertekad untuk jangan lagi sampai terulang kejadian serupa, karena saya harus nyasar jauh ke Ciroyom untuk mendapat pelajaran berharga ini. Saya tidak boleh lagi terlalu malu untuk bertanya, apalagi ketika sudah jelas saya berada pada kondisi kebingungan dan membutuhkan bantuan informasi dari orang lain. Dipikir-pikir, apa sih ruginya bertanya pada orang asing kalau memang benar butuh informasi? Tidak ada ruginya loh. Justru kalau malu bertanya itulah yang biasanya malah mendatangkan rugi.


Penutup

Sejak saat itu sampai sekarang, saya tidak lagi terlalu malu untuk bertanya jika memang membutuhkan informasi. Sebenarnya saya tetap masih terhitung pemalu, seperti menghindar jika harus menjadi pusat perhatian, lebih memilih untuk berada di belakang layar dalam suatu acara, dan sebagainya. Namun jika memang berada dalam kondisi bingung dan butuh informasi, saya tidak lagi malu untuk bertanya. 

Saya mau bertanya tentang jalan pada warga sekitar saat berada di lokasi yang kurang familiar. Saya mau menanyakan stok barang saat belanja di supermarket supaya tidak perlu berputar-putar mencari barang. Saya mau bertanya tentang hal apapun yang memang saya butuhkan informasinya dari orang asing. Karena kalau tidak segera bertanya, malah saya sendiri yang rugi waktu kan?

Saya juga mengajarkan pada anak-anak saya untuk tidak malu bertanya jika memang membutuhkan informasi. Misalnya jika mereka butuh ke toilet saat berada di mal atau tempat baru lain, saya suruh mereka bertanya lokasi toilet pada petugas keamanan atau karyawan di sana. Saya tidak mau anak-anak mengalami kejadian serupa seperti saya hanya gara-gara malu bertanya. Cukup saya saja yang berbuat bodoh. Hehehe...




Komentar

  1. Jadi ingat pernah juga salah jurusan deh naik angkot maupun bus. Memang serba salah sih, tapi daripada makin nyasar lebih baik berhenti sebelum makin jauh ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Garuda di Dada Timnas -> Salah??

Ada yang mempermasalahkan penggunaan lambang Garuda di kaos timnas Indonesia. Padahal, timnas Indonesia sendiri lagi berjuang mengharumkan nama Indonesia di ajang Piala AFF 2010.  Ini 100% pendapat pribadi aja yah.. Apa sih yang salah dengan penggunaan lambang Garuda di kaos timnas? Bukannya dengan adanya lambang Garuda di dada itu berarti mereka yang ada di timnas bangga jadi Indonesia dan bangga bisa berlaga di ajang internasional dengan membawa nama Indonesia? Bukannya dengan membawa lambang Garuda di dada itu berarti mereka akan makin semangat untuk main di lapangan hijau karna membawa nama besar Indonesia? Dan itu berarti Bang BePe dan kawan2 itu akan berusaha lebih keras untuk membuat semua warga Indonesia bangga? Pernah liat timnas maen di lapangan hijau? Pernah liat mereka rangkulan sambil nyanyiin lagi wajib INDONESIA RAYA? Pernah merhatiin ga kalo mereka sering mencium lambang Garuda yang ada di dada mereka setiap abis nyanyiin lagu INDONESIA RAYA? Pernah juga ga m...

Makanan Favorit di Setiap Masa "Ngidam"

Setelah bulan lalu saya gagal setoran karena kesulitan mencari waktu untuk menulis di sela-sela perubahan ritme kehidupan selama ramadan, bulan ini saya tidak mau lagi gagal setoran tulisan. Kebetulan tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah tentang makanan favorit.  Sebenarnya kalau ditanya apa makanan favorit saya, jujur bingung sih jawabnya. Karena saya bisa dibilang pemakan segala. Buat saya makanan hanya ada yang enak atau enak banget. Hehe… Jadi kalau disuruh memilih 1 makanan yang paling favorit sepanjang masa, ya susah. Makanya ketika beberapa minggu belakangan ini saya sering terbayang-bayang satu jenis makanan, saya jadi terinspirasi untuk menjadikan ini sebagai tulisan untuk setoran tantangan bulan ini. Iya, saya memang sedang sering ngidam. Ngidam kurang lebih bisa diartikan keinginan dari seorang ibu hamil terhadap sesuatu, umumnya keinginan terhadap makanan. Ngidamnya setiap ibu hamil juga beda-beda, ada yang ngidamnya jarang tapi ada juga yang se...

Mama sang Wonder Woman

Mama adalah segalanya.. Mama adalah Wonder Woman terhebat yang pernah ada di dunia ini.. :) Di keluargaku, dan sepertinya juga hampir sebagian besar keluarga, mama merupakan sosok yang sangat memegang peranan penting dalam urusan rumah. Segala urusan rumah dari mulai cuci baju, cuci piring, bersih-bersih rumah, masak, dan sebagainya itu semuanya mama yang urus.. Anggota keluarga yang lain seperti suami dan anak-anaknya mungkin juga ikut membantu, kadang bantu mencuci, bersih-bersih, ato urusan rumah lainnya. Tapi tetap saja kalau dihitung-hitung, pasti porsinya jauh sama yang biasa dikerjakan mama. Belakangan ini aku lebih sering ada di rumah. Dan dengan semakin seringnya ada di rumah, semakin aku mengerti sibuknya mama di rumah mengurus segala sesuatunya sendiri. Sebagai seorang anak, pastinya sudah jadi kewajiban aku untuk bantu mama dalam mengurus rumah yang juga aku tinggali. Dengan aku sering ikut membantu mama melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, aku jadi tahu bah...