Suatu ketika pas aku lagi bersihin pupup Kia (1yo), Mas Alka (7yo) nontonin dan komentar.
Alka (A): iiiihhhhh.. Jijik yaaa bersihin e*k bayi. Susah ya bun jadi ibu-ibu tuh?
Bunda (B): hahahaa.. Susah ya kelihatannya mas?
(Dalam hati ku bilang, apaan sih ni anak komentarnya kok tiba-tiba kayak dewasa banget, padahal masih bocah yang sering random. Hahaha)
A: berarti enakan jadi laki-laki dong ya.
B: (komentar apa pulaaaa ini š ) nggak doong,, sama aja laki-laki dan perempuan sama-sama ada enak dan nggak enaknya. Lagian laki-laki juga harus bisa loh bersihin e*k bayi kaya gini.
A: iya, tapi kan lebih sering ibunya yang bersihin e*k.
B: iya memang lebih sering ibunya, karena kan memang ibunya jg yg lebih sering bareng sama bayinya. Tapi bukan berarti laki-laki nggak pernah bersihin e*k bayi kan. Harus bisa juga dong. Alka pernah lihat ayah ganti pampers Kia juga kan?
A: iya pernah.
B: tuh berarti harus bisa dan harus mau juga. Kalau pas ibunya lagi pergi, masa pampers bayinya nggak diganti padahal penuh sama e*k?
A: iya sih ya.
Beres ngobrolin soal bersihin e*k bayi, langsung kepikiran betapa buat anak laki-laki contoh dari ayahnya itu penting. Sebagai laki-laki tentu dia harus punya role model seperti apa seharusnya laki-laki itu. Anak-anak belum punya kemampuan untuk memilah sikap yang baik dan kurang baik. Anak-anak hanya mencontoh. Jadi ketika mereka melihat orang dewasa mereka berbuat A, mereka akan langsung menganggap perbuatan A boleh dilakukan. Dan harus diingat, contoh selalu lebih melekat di pikiran anak-anak dibandingkan kata-kata. Jadi meski sudah diberi nasihat tentang perbuatan baik dan buruk, tapi ketika satu kali saja anak-anak melihat orang dewasa di sekitarnya melakukan perbuatan buruk, anak-anak akan langsung merasa perbuatan buruk itu boleh dilakukan. Coba saja tegur, mereka mungkin akan menjawab "tapi kan aku lihat ayah/bunda/om/tante/kakek/nenek/siapapun berbuat gitu, berarti aku juga boleh dong."
Itulah mengapa menjadi sangat penting bagi sang role model untuk memberikan contoh perbuatan dan sikap yang baik. Dalam tulisan ini saya hanya ingin menyorot tentang sikap ayah dalam rumah tangga terhadap istri dan anak-anaknya saja ya. Anak laki-laki, terutama yang masih kecil, sudah pasti akan menjadikan ayahnya sebagai role model untuk menjadi laki-laki dewasa. Karena ayahnya itulah sosok laki-laki yang setiap hari dilihat oleh anak, sehingga apa yang dilakukan oleh ayahnya akan diserap dan bisa jadi akan dilakukan juga oleh anak. Apapun perilaku ayahnya, baik benar ataupun salah, akan dilihat lalu diserap dan dicontoh oleh anak.
Dalam contoh percakapan antara saya dengan anak saya, jika anak saya tidak pernah melihat ayahnya mengganti popok adiknya yang masih bayi, bisa jadi anak saya akan berpikiran bahwa mengganti popok adalah hanya tugas seorang ibu sementara ayah tidak perlu turun tangan. Padahal anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Bahwa ibu yang lebih banyak memegang peranan mungkin memang betul, karena ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan ibu, misalnya menyusui. Selain itu biasanya juga ibu memang akan lebih telaten dalam merawat bayi baru lahir. Tapi bukan berarti ayah tidak ikut terlibat sama sekali.
Anak adalah tanggung jawab bersama ayah dan ibunya, bukan hanya salah satu. Anak bisa hadir di dunia karena hasil kerja sama ayah dan ibu, sehingga dalam mengurusnya pun harus ada kerja sama antara ayah dan ibu. Bahkan bisa dibilang bahwa ayah pun seharusnya bukan "membantu" ibu dalam merawat anak, tapi memang bersama-sama merawat anak. Kalau membantu kan kesannya itu tugas ibu, dan ayahnya hanya muncul saat ibunya merasa kerepotan. Padahal seharusnya tidak seperti itu, ayah sebisa mungkin ikut turun tangan dalam segala hal tentang merawat bayi dan bukan sekedar "membantu".
Tidak hanya dalam urusan anak, dalam urusan rumah tangga pun suami sudah selayaknya ikut turun tangan. Ingat, bukan "membantu", tapi "ikut turun tangan". Karena rumah yang ditempati milik bersama, ditinggali juga bersama, barang-barang milik bersama dan digunakan bersama, jadi sudah selayaknya dalam mengurusnya pun dilakukan bersama-sama. Ketika rumah berantakan atau kotor, semua penghuni rumah sebenarnya bertanggung jawab untuk membersihkannya. Jangan sampai ada anggapan "itu bukan tugas saya", sehingga akhirnya urusan rumah hanya dibebankan kepada ibu sebagai orang yang lebih sering ada di rumah.
Pembagian tugas antara anggota keluarga boleh-boleh saja. Misalnya istri bertanggung jawab atas urusan dapur, suami bagian menyapu mengepel, dan anak-anak bertanggung jawab atas mainannya masing-masing. Tapi ketika ada salah satu anggota keluarga yang tidak bisa mengerjakan bagiannya karena suatu hal, anggota keluarga yang lain harus mau dan bisa mengambil alih. Misalkan ibu sedang sakit, tumpukan piring kotor tentu tidak bisa membersihkan dirinya sendiri kan? Jadi anggota keluarga yang lain harus mau dan harus bisa turun tangan.
Sebutan ibu rumah tangga tidak berarti segala urusan rumah tangga harus dikerjakan oleh ibu. Terlalu berat bagi Seorang ibu jika harus mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga sendirian, apalagi harus mengurus anak-anak yang masih kecil. Karena itu seorang ayah harus mau ikut turun tangan baik dalam urusan rumah tangga maupun mengurus anak. Tidak hanya meringankan beban ibu, tapi juga sebagai contoh untuk anak-anaknya. Jika ayah tidak pernah memberi contoh untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, anak (khususnya anak laki-laki) tidak akan tahu bahwa laki-laki juga bertanggung jawab dalam urusan rumah tangga. Bila tidak dicontohkan sejak dini, anak tidak akan mau dan akhirnya tidak terbiasa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Padahal seperti yang disebutkan sebelumnya, rumah adalah milik bersama dan menjadi tanggung jawab bersama untuk merawatnya.
Komentar
Posting Komentar