Langsung ke konten utama

Postingan

Review Buku "Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan"

Di Indonesia bulan April identik dengan perempuan, karena di dalamnya ada salah satu hari yang dijadikan sebagai hari besar nasional, yaitu Hari Kartini. Dan untuk turut memperingati hari besar tersebut, komunitas Mamah Gajah Ngeblog ikut membuat challenge untuk anggotanya yaitu membuat review buku bertema perempuan inspiratif. Oleh karena itu, untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog tersebut, kali ini saya akan mencoba membuat ulasan sebuah buku tentang perempuan.  Awalnya saya cukup kebingungan saat memilih buku yang akan saya review . Saya melihat rak buku, sebenarnya ada beberapa buku yang bisa masuk ke tema tantangan, tapi entah kenapa, kok rasanya hati kurang tergerak untuk mengambil buku-buku tersebut untuk dibaca (atau dibaca ulang). Kemudian saya buka list di notes HP yang isinya daftar buku yang ingin saya baca tapi bukunya belum saya dapatkan, dan saya melihat ada judul buku "Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan", buku yang pernah dir...

Kiana Arunika Putri

15 Maret 2021, hari di mana akhirnya bunda ketemu sama gadis mungil yang selama 9 bulan ada di dalam perutnya bunda.  Kiana Arunika Putri Setelah 2 kali melahirkan anak laki-laki, sejak tahu hamil yang ketiga ini memang sudah mengharapkan bahwa kali ini bayi di perut akan berjenis kelamin perempuan. Ga cuma aku yang berharap, tapi juga ayahnya, eyang-eyangnya, juga mas-masnya. Makanya ketika di usia kandungan 5 bulan kelihatan jenis kelaminnya (InsyaAllah) perempuan, semua senang sekali. Dan sepanjang kontrol kandungan pun dokter selalu mengatakan bahwa jenis kelamin yang terlihat saat USG adalah perempuan.  Kehamilan kali ini jika dibandingkan 2 kehamilan sebelumnya bisa dibilang yang paling "ripuh". Keluhannya jauh lebih banyak dan dimulai sejak trimester kedua. Kalau di kehamilan pertama nyeri-nyeri di berbagai bagian badan dirasain pas bulan terakhir kehamilan, dan di kehamilan kedua dirasain sejak usia kandungan 8 bulanan, nah hamil yang ketiga ini badan rasa...

Apa Alasan Kuliah di Planologi?

Kapan biasanya seseorang mulai mencari tahu soal jurusan kuliah dan mulai menetapkan hati mau kuliah di jurusan apa? Macam-macam sih ya kayanya, ada yang dari kecil sudah terlihat bakat dan minatnya, tapi ada juga yang bahkan sampai mau mendaftar masih bingung mau daftar ke jurusan apa. Saya termasuk yang tidak terlihat jelas arah minat dan bakatnya, dan saya sendiri pun tidak memiliki keinginan khusus untuk kuliah ke jurusan tertentu. Dan karena itu, saya manut-manut saja dengan arahan dari orangtua saya. Sebenarnya orangtua saya tidak pernah secara spesifik menyuruh saya masuk jurusan tertentu sih, tapi bisa dibilang semacam diarahkan saja. Kebetulan papa saya adalah lulusan ITB sementara mama lulusan Unpad, dan sejak kecil kami anak-anaknya sudah mendapatkan gambaran bahwa ITB dan Unpad adalah 2 kampus terbaik di Bandung, bahkan Indonesia. Jadi secara tidak langsung papa dan mama seakan sangat mengharapkan anak-anaknya akan menjadi lulusan dari almamater yang sama dengan papa dan ma...

Belajar Bersyukur dari Covid-19

Seperti yang sudah tertuang di postingan sebelumnya, saya mengawali tahun 2021 ini dengan isolasi mandiri akibat terpapar covid-19. Untuk saya itu adalah suatu cobaan yang cukup berat. Tapi alhamdulillah saya bisa melewati minggu-minggu sulit tersebut dengan cukup baik bersama dengan suami dan anak-anak, dan semuanya berakhir baik juga karena saya suami dan anak-anak masih sehat walafiat sampai sekarang.  Di tulisan ini saya ingin sedikit membagikan pengalaman batin saya menghadapi cobaan tersebut, bagaimana saya bisa bertahan, dan hal baik apa yang bisa saya ambil dari cobaan tersebut.  Berawal ketika saya mendapat petir di siang bolong berupa hasil swab saya yang menunjukkan hasil positif. Pada detik pertama saya mendapat kabar bahwa saya positif covid-19, jujur saat itu sama sekali ga ada rasa apapun. Hati ga ngerasa apa-apa, otak ga ada pikiran gimana-gimana. Sedih? No . Takut? No . Galau? No . Saya hanya bisa ngasih respon "oh gitu. yaaaaa yaudah, gimana lagi sih kan". B...

Ceritaku Sebagai Penyintas Covid-19

Ini sebenarnya tulisan yang agak late post. Butuh waktu untuk menulisnya, lagi-lagi karena kesulitan cari waktu untuk fokus menulis. Tapi walau agak terlambat, tetap mau bercerita sedikit yaa tentang pengalaman saya tentang covid-19. 2 Kali Positif Juli 2019, tanpa benar-benar direncanakan sebelumnya, saya mendapati bahwa saya ternyata positif hamil. Sebenarnya hati sudah ingin nambah anak lagi, karena Dinand sudah hampir 3 tahun juga umurnya, dan umur saya sendiri sudah masuk kepala 3. Tapi sempat berpikir bahwa sepertinya hamil dalam kondisi pandemi seperti ini bukan kehamilan yang ideal. Jadi memang belum merencanakan untuk memprogram kehamilan anak ketiga. Tapi ternyata Allah mengqodarkan saya untuk hamil anak ketiga. Tetap senang, excited, dan bahagia dengan berita ini, namun tidak bisa dipungkiri ada sedikit kecemasan akibat pandemi. Ternyata, belum genap 6 bulan sejak saya mendapati hasil testpack positif, saya mendapati bahwa saya "positif" lagi. Hanya saja "po...

Mari Hidupkan Kembali Blog Ini

Menulis, sebenarnya adalah salah satu hobi saya, selain membaca. Sejak kecil buku selalu jadi bagian penting hari-hari saya, ya untuk dibaca atau ditulis. Masa SD masih jamannya menulis catatan harian di diary, kalau catatan yang terhitung rahasia ditulisnya di diary bergembok. Hehe.. Masa SMP dan SMA juga masih suka menulis di diary, saat itu saya belum terlalu mengenal dunia digital. Saat kuliah barulah saya semakin mengenal dunia digital, dan saya baru tahu bahwa menulis bisa dilakukan di blog. Akhirnya saya membuat blog pribadi yang berisikan apapun yang ingin saya tulis, termasuk cerita hari-hari saya dan curhat-curhat ala anak muda. Menurut saya saat itu, menulis bisa menjadi sarana untuk stress relief . Ketika kepala rasanya penuh, isi kepala yang kusut tersebut rasanya bisa sedikit demi sedikit terurai ketika saya menulis. Ada kesenangan dan ketenangan yang bisa didapatkan dari menulis. Mungkin hal ini tidak berlaku general ya, tapi untuk saya sendiri, setelah menulis (khususny...

Cerita Demam Berdarah Alka (part 2)

...dilanjutkan dari cerita sebelumnya, ternyata panjang :)...   Pas pagi-pagi aku ditelepon sama ayahnya Alka yang ada di rumah, video call nunjukkin Dinand yang lagi nangis ngambek karena bangun tidur ga nemuin bundanya. Pas ngeliat Dinand nangis tersedu-sedu rasanya nyesek bangeeeeeet, air mata udah mau jatuh tapi aku tahan karna ga mau Alka dan Dinand lihat bundanya nangis. Kalau bisa mah mau deh belah diri supaya bisa ngurusin dua-duanya di tempat berbeda. makanya siang itu aku minta ijin sama Alka untuk pulang dulu sementara dia dijaga sama ayahnya, karena kasihan Dinand kan. Boleh, tapi jangan lama-lama, kata Alka. Pulanglah aku dan sempat main-main dan suapin Dinand dulu. Tapi belum juga satu jam di rumah, udah ditelepon sama ayahnya karena Alka nangis-nangis pengen sama bunda. Akhirnya Dinand lagi yang ngalah. Tadinya mau gantian jaga malamnya, aku di rumah sama Dinand dan ayahnya yang jaga Alka di RS, tapi gagal karena ga dapat ijin dari yang sakit. Akhirnya ya aku ...